By : Ani Paga
Hey Guys…...
Anda penggemar kuliner nusantara? Tak ada salahnya
anda mencoba masakan khas Indonesia Timur dengan cita rasa yang berbeda. Dua
diantaranya Makan Suami dan Makan Tanah. Bagaimana pula teknik mengolah makanan
bakar batu?
Selengkapnya simak Artikel berikut hanya di Mama Online Aja.
Semangat menulis sebagai hobbyku kembali menggelora tatkala
di bulan Juni tahun 2016 dari atas langit
biru dengan maskapai penerbangan Batik Air
air bus A320 yang berkapasitas 150 penumpang menemani perjalanan keempatku menuju
Maluku dihiasi keindahan pulau-pulau yang sangat mempesona.
Kendati semalam penuh
bergadang di kantor karena harus take off
pada pukul 01.30 dini hari tak membuatku
lelah dan hanya bisa tertidur selama satu jam dalam pesawat. Suara pramugari cantik
yang menyajikan sarapan membangunkan aku dari tidurku. Secara kebetulan
aku mendapat jatah tempat duduk yang terletak
persis di samping jendela membuatku lebih
leluasa menikmati keindahan barisan pulau nan indah serta tak lupa mengeluarkan
kamera ponselku untuk mengabadikannya.
![]() |
| Kota Saumlaki |
Berbeda dengan tujuan perjalananku sebelumnya kali ini
aku menyambangi sisi tenggara barat Maluku.Setelah transit untuk beberapa jam di
Bandar Udara Pattimura Ambon saya melanjutkan
perjalanan menuju kepulauan yang berbatasan langsung dengan perairan Australia
tepatnya di kepulauan Tanimbar. Mey perempuan muda penduduk asli Tanimbar yang kujumpai
di Bandar Udara Pattimura Ambon dan pada
saat yang sama terbang menuju Saumlaki ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat
menemani perjalananku. Dia begitu ramah dan hal ini yang membuatku tak sungkan untuk
mengorek cerita seputar keamanan serta semua kebutuhan selama berada di kepulauan
yang memiliki 65 pulau itu. Mey dengan goresan alisnya yang berwarna biru terkesan
sangat welcome dengan kehadiranku di
kampungnya.
![]() |
| Kelapa muda pelepas dahaga |
Tepat pukul 12.30
waktu Indonesia Timur pesawat ATR 72-600 milik maskapai Wings Air sebuah anak perusahaan Lion air mengepakkan sayapnya terbang menuju Kepulauan
Tanimbar. Selain Wings
Air maskapai
penerbangan Garuda Airline dengan jenis pesawat yang sama juga melayani
penerbangan Ambon – Saumlaki dengan frekuensi penerbangan setiap hari. Penerbangan yang memakan
waktu satu jam tiga puluh menit itu melewati laut Banda yang terbentang dari
pulau Ambon hingga perbatasan wilayah perairan Australia. Rasa khwatir sempat muncul pasca
melacak lokasi yang dituju melalui google map. Betapa tidak, jika terjadi
kecelakaan penerbangan, tubuhpun dijamin akan
sulit mengapung di permukaan air lautan luas dan langsung
tenggelam ke
dasar laut dalam dengan palung laut (Jurang laut)nya yang
terbilang paling dalam di Indonesia sejauh 7000 meter . Tetapi tunggu dulu tak usah
berlarut-larut dalam kekhwatiran.
Keindahan gugusan pulau di wilayah kepulauan Tanimbar setidaknya membuatku terkagum-kagum
menikmatinya. Belum lagi keindahan hamparan hutan belantara yang masih terjaga
dengan baik serta menyimpan pohon-pohon sebagai bahan bangunan dengan jenis
kayu besi yang berkelas dunia mampu mengobati rasa takutku. Jutaan pohon kelapapun
ikut menghiasi pulau yang berpenduduk mayoritas penganut agama katolik itu
![]() |
| Menyaksikan indahnya sunset |
Seperti
biasa saat mendarat tiba aku mengeluarkan kamera ponsel untuk berselfie ria di bandar Udara Mathilda Batlayeri
Saumlaki sebagai pintu gerbang di kepulauan Tanimbar ini. Nama Mathilda Batlayeri
konon merupakan nama seorang pahlawan perempuan di pulau Yamdena Kepulauan
Tanimbar itu yang gugur dalam mempertahankan markas kepolisian saat penyerangan asrama polri di Kalimantan.
Tak lama berselang kendaraan yang menjemputku melaju dengan tangkas menuju kota saumlaki
yang berjarak 25 Km dengan waktu tempuh 30 menit. Lagi-lagi keindahan nyiur
melambai sepanjang perjalanan membuatku semakin mengagumi keindahan kabupaten
yang memiliki luas 52.996 km²ini. Jangan bermimpi taxi yang memiliki argo meter
beroperasi di daerah ini. Aku
harus merogoh
isi kantong sebesar Rp. 200.000 untuk membayar ongkos taxi yang masih berplat
hitam itu.
![]() |
| Tempat Ziarah umat Khatolik |
Usai menaruh bagasi di kamar hotel di kota Saumlaki Ronald; nyong Ambon manise yang menyetir
mobil kami membawa saya menuju lokasi wisata sekaligus tempat ziarah umat
katolik di bukit kristus Raja yang letaknya di Finduardesa Olilit yang
berjarak 2 km dari kota Saumlaki. Wow tempat wisata dan keindahan bibir pantai berpasir
putih menambah semangatku untuk terus menikmati kepulauan Tanimbar ini. Cukup
lama kami menikmati obyek wisata pilgrim ini.Dari kejauhan air laut yang biru dan
menyatu dengan birunya warna langit membawa saya larut dalam
ketenangan dengan hembusan angin laut.
Tempat wisata ini rupanya sangat ideal sekedar
melepaskan diri dari kepenatan ibukota Jakarta.
Senjapun menjemput kami untuk kembali ke hotel tempat penginapanku. Tubuh terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan
dengan pesawat udara selama lima jam tiga puluh menit dari Jakarta.
Jarum jam menunjukkan angka 20.11 waktu setempat aku bergegas menuju resepsionis hotel
menanyakan tempat makan di malam hari. Perutku sepertinya
tak bisa diajak kompromi minta segera
diisi makanan. Seperti
biasa, hobbyku melacak kuliner tradisional sebagai makanan
khas daerah. Kali
ini aku menanyakan makanan khas
Tanimbar. Si
Rsepsionis cantik dengan ramah mengupas
semua makanan khas daerahnya padaku.
Makan Tanah adalah salah satu makanan khas
Tanimbar yang diceritakannya kepadaku.
Beragam pertanyaanpun terus berkecamuk dalam benakku “ Makan tanah?, Bagaimana
rasanya, bagaimana reaksi perutku jika aku dikasih makan tanah, emangnya di
Tanimbar nggak ada makanan lain?, Duh...kasian juga orang Tanimbar, Tanah
dijadikan makanan pokok’ Gumamku semakin penasaran. “di mana saya bisa
mendapatkan makanan itu” tanyaku pada resepsionis. “Di kampung-kampung bu” jawab si resepsionis. Dengan sedikit raut wajah
kecewa saya menanyakan lagi rumah makan yang terdekat
dengan hotel. Ah ternyata tepat di depan hotel tempatku menginap terdapat satu rumah
makan.
![]() |
| Ikan-ikan segar menyambut anda |
Tak mau
menunggu lama aku melangkahkan kedua kakiku menuju rumah makan.
Dinnar nama rumah makan itu. Ligthing serta desain interiornya yang
wah membuatku tertarik untuk menikmati makan malam. Malam itu jumlah pengunjung
lumayan banyak. Senyum sumringah sang pemilik rumah makan yang cantik dan ramah
membuatku semangat mengibas helai demi helai daftar menu. Sesaat aku tertegun
memandangi daftar menu. Pasalnya harga menu makanan yang tercantum dalam
listnya sangat fantastis dari rumah makan di jakarta. Harga nasi capcay yang
biasanya di jakarta dibandrol pada angka Rp. 15.000 di rumah makan ini dijual
dengan harga tiga kali lipat menembus angka Rp. 50.000, -
Pemilik restaurant Dinar begitu ramah menyambutku.
Kami terlibat dalam obrolan panjang seputar kehidupan orang-orang Tanimbar. Aku kembali menanyakan kuliner khas Tanimbar berupa makan tanah
seperti dijelaskan resepsionis hotel. Oalah, ternyata yang dimaksud makanan yang berasal
dari dalam tanah seperti umbi-umbian.
Makan Kasbi
Hari berikutnya tepatnya jam makan siang saya
mendatangi pasar tradisional yang letaknya tak begitu jauh dari hotel tempatku
menginap. Sayur-sayuran , buah-buahan segar tersedia di pasar ini. Aku menyempatkan diri
bercengkrama dengan para pedagang pasar. Kelapa muda menjadi sasaranku untuk
melepaskan dahaga di tengah panasnya matahari yang menyengat. Sembari menikmati
kelapa muda aku menanyakan makanan khas Tanimbar lainnya pada penjual kelapa
muda. Dia menawarkan aku makan di rumah tetangganya yang menurutnya menyediakan
kuliner khas Tanimbar. Aku menuruti tawarannya. Kami berdua menumpang angkot
menuju rumahnya. Dengan penuh semangat aku langsung mendatangi dapur mereka.
Harapanku agak sirna ketika kudapati mereka baru memulai mengupas bumbu. Wah…
jam berapa saya bisa menikmati makannya. Lisa yang mengantarku menawarkanku
makan kasbi. ‘ Boleh boleh, saya mau makan kasbi” rasa ingin tahuku terus
bergejolak. Saat kasbi dikeluarkan dari dalam panci ternyata Kasbi itu singkong rebus. Meski
sedikit kecewa karena ketidaktahuanku akan arti kasbi aku membawa pulang ke
hotel. Tak lupa aku memberikan bayaran kasbi rebus sebesar Rp. 10.000,-.
![]() |
| Menyantap Keladi Goreng di restaurant terapung |
Makan Suami
Sore hari usai menyelesaikan tugas kantorku aku
berjalan menuju pelabuhan. Di pinggir jalan banyak warung-warung makan kecil
menyajikan menu ikan bakar. Ikan yang baru saja ditangkap di laut terlihat
segar membuatku tak mau lama-lama ingin menikmati ikan bakar yang ditemani
sambal colo-colo. Terdengar beberapa ibu sebagai penjaja makanan menawarkan
dengan suara yang keras menjual suami. ‘Haaaahhh jual suami? Apa maksud ibu menjual suami ibu? ” tanyaku
pada penjualnya. Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan sebutan suami. Ternyata
yang dimaksud Singkong Parut yang diperas dalam karung dengan balok berukuran
besar hinnga airnya mongering kemudian
dibentuk seperti piramida untuk kemudian dikukus. proses
pembuatannya memakan waktu yang.lama Teksturnya
kenyal dan hanya bisa bertahan dalam waktu dua hari. Suami
menjadi teman ikan bakar. Akupun melahapnya. Dua ekor ikan berukuran besarpun kuhabiskan mengisi perutku
yang lapar.
![]() |
| Suami yang berbentuk kerucut |
Di
Kepulauan.Tanimbar tidak ditemukan areal persawahan. Struktur tanahnya padat
dan berpasir.Tak heran beras dan kebutuhan sembako
lainnya harus didatangkan dari Surabaya. Harga gas isi ulang ukuran 12 kg
sangat mahal menembus angka Rp 350 ribu per tabung. Tidak seperti di Flores
yang memproduksi gula merah asli dari pohonnya gula merah di kepulauan yang
berbatasan langsung dengan perairan Australia ini didatangkan dari Jawa
Bakar Batu
Rasa penasaranku kembali menggelora ingin segera
menyaksikan acara bakar batu sampai aku nekat sore hari menumpang angkot
berkeliling kota Saumlaki. Beruntung sang sopir yang baik hati mau mengantarku.
Nasibku beruntung saat memasuki kawasan hutan kami melihat asap mengepul di
atas gundukan tanah bekas galian berwarna merah. Sang sopir dengan ramah
memberitahukanku bahwa yang berasap itu adalah acara bakar batu. Kontan saja aku segera meminta sopir
menghentikan laju kendaraannya dan membiarkan aku pergi meninggalkan angkotnya.
Kukeluarkan uang recehan sebagai ongkos angkot. Bakar batu merupakan proses pengolahan makanan yang berbahan
dasar daging yang tercampur bumbu kemudian ditutup dengan daun pisang serta daun lainnya yang selanjutnya dibakar di atas batu besar yang di dalam tanah yang telah
digali . Hmmm
sepertinya maknyuuussss
![]() |
| Makanan Bakar Batu yang diangkat dari dalam tanah |
Dengan semangat aku mendekati dua anak muda yang sedang
nongkrong menunggui makanan bakar batu yang dibakar dalam tanah. Yonas pegawai Dinas Pertanian dan Daniel mahasiswa
salah satu sekolah tinggi di kota itu begitu welcome dengan kehadiranku. Tentu saja dua personil pelaku
pembakaran batu ini agak heran
dan bertanya-tanya siapa sebenarnya aku yang tidak pernah mereka kenal
sebelumnya koq tiba-tiba muncul minta bergabung. Aku merapat dan memperkenalkan
diri dan duduk melingkar serta menjelaskan tujuan kedatanganku yakni ingin
menikmati acara bakar batu. Rasa malu ? ah buang saja menjauh. Toh belum tentu
kesempatan emas ini terulang kembali.
Ketika hari mulai gelap seorang ibu mendatangi kami.
Ibu Listia ternyata pemilik usaha catering yang mengolah bumbu masakan bakar
batu. Ibu Listia tentu saja heran dengan kehadiranku. Awalnya sikapnya begitu
masa bodoh dengan kehadiranku yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Lagi-lagi
aku memperkenalkan diri. Ketika sedikit demi sedikit tanah merah itu digali
kembali aroma masakan bakar batu berupa daging yang dibumbui ditemani keladi
(talas), singkong mulai mengundang selera makanku. Akupun meminta jatah makanan
bakar batu itu. Tak banyak yang kuminta cuma sepiring saja. Tetapi yang
kudapatkan jawaban mereka sungguh bertolak belakang dengan rasa ngiler dan
penasaranku. “bu, mohon maaf masakan ini yang punya orang lain dan kebetulan
meminta beta yang membuatnya. Ibu Ani seng
(tidak) boleh ambil makanan ini”kata
seorang kru bakar batu.
![]() |
| Daniel dan Yonas; Pelaku pembakaran batu |
Raut wajahku yang tadinya happy langsung berubah
memperlihatkan kekecewaanku yang sangat dalam sambil terus merayu mereka agar
memberi sepiring daging, talas serta
singkong buatku. Rupanya dewi fortuna tak mau menjauh dariku. Saat kembali ke
rumah bu Listia saya disembunyikan di balik pintu dapur sementara kru bakar
batu lainnya mengawasi jika yang punya acara beretnis China menjemput makanan
bakar batu. Bu Listia membungkus satu porsi daging, talas dan singkong buatku.
![]() |
| Menjadi tamu yang tak diundang dalam bakar batu |
Dugaan kami tidak meleset. Tepat pukul 18.30 waktu setempat satu unit mobil berhenti di depan rumahnya. Rupanya yang punya hajatan hendak mengambil makanan itu. Aku terus bersembunyi di balik pintu. Orang itu tak memperhatikan jika sepiring makanan itu telah kuambil. Dia mengangkut makanan itu ke dalam mobil dan pergi.
Yesss , aku berhasil membawa pulang sepiring makanan bakar batu. Akupun mengucapkan kata terima kasih pada bu Listia, Yonas, Daniel dan dua orang lainnya. Dengan mengendarai ojek aku kembali ke hotel.
Di Resstaurant hotel aku membuka kemasan makanan itu. Aaahhh di luar dugaanku ternyata porsinya banyak banget. Aku tak sanggup menghabiskannya sendiri. Kupanggil pegawai restaurant dan kuberikan separuh makanan itu. Kami berdua menghabiskan makanan itu dengan lahap. Sungguh suatu pengalaman baru yang tak akan lenyap di benakku.
Tanimbar kuberharap bisa mengunjungimu di masa yang akan datang.
Beta pulang dolo e, sampai jumpa di edisi berikut










Tidak ada komentar:
Posting Komentar