By : Ani Paga
(Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)
(Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)
Labuan
Bajo ibukota Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan
pariwisatanya sebagai sektor primadona makin menyedot perhatian dunia.
Kabupaten yang merupakan pemekaran dari kabupaten Induk Kabupaten Manggarai ini
setiap tahunnya ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Tercatat sejak
Januari hingga bulan Juni 2018 sebanyak 68.829 wisatawan mengunjungi Labuan
Bajo. Pesona Komodo sebagai daya tarik utama wisatawan yang didukung dengan
keindahan obyek wisata alam dan budayanya yang sangat eksotik mampu menggeser
Bali sebagai destinasi wisata yang
sebelumnya telah dikenal luas di mancanegara. Kini Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai satu dari 10 destinasi
prioritas di luar Bali yang diperkuat
oleh arahan Presiden Joko Widodo di mana Labuan Bajo ditetapkan sebagai Top
Four bersama Danau Toba, Mandalika dan
Borobudur.
Jika
beberapa dasawarsa yang lalu para wisatawan hanya mengenal Bali kini perhatian
wisatawan bergeser ke timur pulau Bali yakni Lombok, Sumbawa dan Flores. Flores
menjadi tumpahan wisatawan pada beberapa tahun terakhir. Para wisatawan
mancanegara dan wisatawan domestik berdecak kagum pada keindahan pulau nusa
bunga itu. Tiga orang wisatawan perempuan asal Italia yang saya temui dalam
perjalanan Labuan Bajo menuju Denpasar beberapa waktu lalu menyebut Flores is amazing (keindahan Flores
sangat luar biasa). Mereka menilai Flores seperti surga wisata yang baru mereka
temukan.
Sebagai
Gate Way (pintu masuk) pulau Flores kota
kecil dengan ratusan obyek wisata alam serta budayanya ini terus berupaya
mempercantik diri. Saat saya mengikuti
pelatihan manajemen pariwisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Labuan
Bajo di tahun 1998 Drs. Johannis Pake Pani yang saat itu menjabat sebagai
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa
Tenggara Timur menyebutkan Komodo menjadi trade
mark (merek dagang) industri pariwisata Labuan Bajo. Kehidupan pariwisata
yang merupakan industri bebas polusi dan multy
effect ini terus berkembang pesat di Labuan Bajo. Lihat saja beberapa hotel
berbintang, travel agent, restoran makin bertumbuh menghiasi kota di ujung
barat pulau Flores ini. Pembangunan Bidang transportasipun terus digenjot. Sektor perhubungan udara
misalnya jika sebelumnya landasan pacu bandara
Komodo hanya mampu didarati pesawat twin otter milik Merpati Nusantara Airline, setelah dilakukan kajian master plan Bandar
udara ini mampu didarati pesawat narrow body dengan tipe Airbus A320 yang
berkapasitas 166 seat; 12 seat merupakan kelas bisnis dan 144 seatnya merupakan
kelas ekonomi milik Batik Air sebuah
anak perusahaan Lion Air. Garuda Indonesia yang telah lebih dulu membuka rute
penerbangan Jakarta – Labuan Bajopun menerjunkan pesawat jenis bombardier
CRJ1000 Nextgen yang berkapasitas 96 seat. Sriwijaya Airpun tak mau ketinggalan
merebut peluang dengan membuka jalur penerbangan Denpasar Labuan Bajo dengan menggunakan
pesawat boeing 737 500. Sementara Winsg Air yang merupakan anak perusahaan Lion
Air juga menerjunkan ATR 72-600nya melayani arus penumpang Denpasar Labuan Bajo.
Selain
transportasi udara akses dengan transportasi lautpun berlayar pergi dan menuju
Labuan Bajo. Bahkan yang dulunya ditempuh dengan waktu yang lama kini dengan
adanya toll laut pelayaran Surabaya – Labuan Bajo hanya ditempuh dengan waktu
26 jam.
Dilanda Krisis Air
Siapa
sangka di balik pesona Labuan Bajo yang berhasil menggaet perhatian dunia
ternyata masih menyimpan beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebut
saja kebutuhan air bersih yang masih menjadi persoalan krusial di kota Labuan
Bajo sebagai destinasi wisata favorit jaman now
bahasa gaul anak muda sekarang. Beberapa
warga Labuan Bajo mengeluhkan pendistribusian air PDAM yang tidak merata di
rumah-rumah penduduk. Leonardus Nyoman
seorang pelaku usaha wisata mengeluhkan persoalan kekurangan air
masih menjadi masalah klasik di Labuan Bajo. Bukan saja kesulitan air
menurutnya kekurangan bahan bakar juga masih sering terjadi di Labuan Bajo. Lebih lanjut Leo mengatakan kedua masalah ini
berpengaruh besar dan menghambat kegiatan wisata di Manggarai Barat
Yulti perempuan asal Labuan Bajo mengatakan Labuan Bajo memiliki
beberapa sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi
masyarakat Labuan Bajo. Dalam sebuah disuksi kecil dia menyebutkan selain
air dari mata air Melo sebenarnya kebutuhan
air bersih masih bisa di peroleh dari sumber mata air yg ada di sekitar kota
Labuan Bajo sendiri seperti mata air wae Tuak di daerah Wae Sambi , Wae
Kemiri, Wae Medu , Wae Mata dan terdapat lagi satu sumber mata air di sernaru , daerah Lancang, arah airport dan juga di dekat kantor bupati
Sementara itu Ir. Titus
Kantur ahli teknik lingkungan (air minum
dan air limbah) asal Manggarai Flores
yang menetap di Jakarta mengatakan dalam
Master Plan Air Minum Labuan Bajo; semua
sumber mata air di Labuan Bajo
telah diidentintifikasi mana yg
potensial berdasarkan kualitas, kuantitas, teknis serta tidak bertentangan dengan regulasi yang ada. Menurutnya perlu dilakukan
perencanaan yang matang. Kapasitas
terpasang saat ini masih tercukupi hanya
saja water lossesnya yang masih tinggi. Dikatakannya secara teknis masih
terdapat pernasalahannya yakni masalah
sumber dan jaringan yang amburadul. Dia menyarankan agar menggunakan konsultan
yg kompeten dalam perencanaan air minum.. “Yang tidak kalah pentingnya adalah
aspek kelembagaan baik regulator mau pun operatornya. PDAM harus didukung oleh sumberdaya
manusia yang yang mumpuni jika tidak ya tinggal
di tempat” ujar Titus.
Air
Minum Labuan Bajo Berbenah
Matias Mance Mboi salah satu anggota Pokja
percepatan pengembangan Labuan Bajo pada
Kemenko Maritim menyatakan dalam rangka persiapan Labuan Bajo sebagai destinasi
prioritas yang menjadi tempat kunjungan
para peserta Annual Meeting IMF-WB 2018 yang akan berlangsung di bulan Oktober
tahun 2018 mendatang kota Labuan Bajo kini dalam tahap poses
pembenahan yang dipimpin langsung Menteri
Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut B. Panjaitan
Menanggapi krisis
air di Labuan Bajo Mance menjelaskan persoalan air di Labuan Bajo itu kompleks.
Mulai dari masalah sumber mata air dan elevasi menuju kota Labuan Bajo, sistem
dan jaringan distribusi sampai kepada manajemen pengelolaan air. Terkait sumber
mata air sebetulnya Labuan Bajo memiliki
beberapa sumber (saat ini ada 4 sumber) yang memiliki debit yang sangat
besar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap individu maupun usaha jasa
pariwisata di Labuan Bajo.. Yang menjadi persoalannya adalah topografi Labuan Bajo yang bertebing-tebing tidak
memungkinkan air dapat mengalir dengan
baik sehingga perlu dilakukan penambahan elevasi daya dorong dari sumber ke
jaringan distribusi.. Terkait sistem dan jaringan distribusi, akibat dari
kondisi topografi yang buruk dari daerah ini maka melalui pemerintah pusat dalam
hal ini kemenko maritim, SPAM Pusat, Pemkab Manggarai Barat pada tahun ini akan
menambahkan 2 unit pompa booster yang akan
membantu mendorong air dari sumber mata air ke jaringan distribusi ke kota
Labuan Bajo.. Proses kegiatan ini sedang dilakukan dan mudah-mudahan akan segera
teratasi pada bulan Agustus 2018.
Sedangkan terkait
manajemen pengelolaan PDAM, saat ini PDAM Manggarai Barat baru resmi terurus secara independen dan
profesional yang baru berjalan dua tahun terakhir ini.. Pembenahan manajemen
termasuk sistem kerja serta sumber daya manusia yang mumpuni masih dalam tahap proses seleksi.. Selain itu pendataan yg
akurat terkait kebutuhan air baik individu, rumah tangga serta usaha jasa
pariwisata terus dilakukan Dikatakannya secara bisnis Labuan Bajo berkembang
begitu cepat. sehingga membutuhkan data dan analisa data yg akurat sehingga
total kebutuhan air dan kekuatan sumber air perlu dihitung secara berkala dengan
proyeksi kedepan yang lebih baik..
Pemetaan masalah kebutuhan air harus diikuti dengan zonasi-zonasi yang mempertimbangkan
populasi penduduk, aktifitas usaha serta kondisi topografi sehingga semakin
mematangkan perencanaan pendistribusian air yang baik.. Pada sisi lain, iuran air PDAM harus dibuatkan sesuai harga yang pantas dan layak
sesuai dgn tingkat pelayanan serta ongkos yang harus dikeluarkan manajemen PDAM dalam menjaga stabilitas ketersediaan air.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar