Jumat, 20 Mei 2016

Kemilau Warna – Warni Perbedaan Keyakinan


 Sebuah Catatan Harian 


By       : Ani Paga


Awalnya saya bingung menentukan judul catatan kecilku ini. Bermula dari postingan seorang profesor gaul yang setiap edisi tulisannya menyajikan pentingnya saling menghargai dalam setiap perbedaan terutama soal keyakinan (iman) yang membuat saya kelepek-kelepek pada setiap postingannya dan saya sampaikan pada anak angkat saya sekaligus teman kantor saya jika maminya (saya) sedang fall in love pada setiap pemikiran profesor gaul tersebut. Istilah profesor gaul merujuk pada penampilannya yang up to date plus konsep pemikirannya yang selalu membuat Netizennya tarik napas legah setelah hari-harinya berhadapan dengan hirukpikuk pertentangan yang terlalu mendewakan masing-masing pilihannya secara berlebihan hingga berujung pada gagal paham (Istilah sang Profesor) tentang pemahaman asal muasal beberapa keyakinan serta pelaksanaannya yang menurut catatan sejarah lahir di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Profesor Gaul jebolan salah satu pesantren di Jawa tengah itu rupanya memberikan pencerahan yang terbilang sempurna bagi Netizennya. Maka tidak heran, sang profesor menjadi  idola banyak orang, bahkan merindukan kehadirannya kembali ke Nusantara tempat kelahirannya.

Sampailah aku pada beberapa ingatan  pengalaman kecilku di Flores sebagai tempat kelahiranku hingga  tumbuh menjadi seorang gadis dewasa kemudian setelah menikah memilih hengkang dari Flores dan mengikuti suami hijrah ke Jakarta. Di tahun 1980-an saat saya masih duduk di bangku SMP beberapa ruangan rumah orangtuaku dijadikan tempat kost bagi perantau asal Jawa yang beragama islam. Hari-hari kami lalui bersama tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Berada di antara mayoritas katolik tidak membuatnya melupakan kewajibannya sebagai seorang penganut islam menjalankan sholat lima waktu dan berpuasa pada bulan ramadhan. Keluargaku pun memberikan kebebasan baginya untuk menjalankan ibadahnya.  Demikian pula ketika tetangga atau ada yang meninggal di sekitar tempat tinggal kami si mas dan beberapa temannyapun turut ambil bagian dalam duka dengan menyumbang lilin, beras, minyak tanah pada keluarga berduka. Sama halnya ketika saya menjadi siswa SMA Negeri I Ende sikap toleransi di antara siswa begitu tinggi. Tak heran, jika acara halal bihalal atau membersihkan area mesjidpun banyak siswa katolik,  kristen, Hindu yang terlibat. Demikian pula sebaliknya saat orang Katolik,  Kristen  merayakan natal bersama, siswa islam dan agama lainnpun dilibatkan juga pada kegiatan kerja bakti membersihkan area gereja

Tahun 1999 saya memutuskan pindah ke Jakarta. Jujur saja sebelumnya tak berminat sama sekali untuk mencari nafkah di ibukota yang terbilang kota terpolusi ketiga di dunia itu. Lagi-lagi ikut suamilah yang menjadi alasanku terpaksa menetap di jakarta. Dan ternyata Tuhanpun bermaksud baik. Di Kota Batavia (sebutan Londo asal Belanda saat menguasai wilayah Teluk Sunda kelapa itu) saya mencari sesuap nasi bersaing dengan jutaan orang lainnya.  Singkat cerita, tiga hari menginjakkan kaki  di  Jakarta saya sudah berkenalan dengan para tetangga yang mayoritas memeluk agama islam bahkan mereka tak sungkan mengantar lauk pauk bagi keluarga kecilku secara gratis. Agak kontras dengan warning Big Boss saya di perusahaan real estate tempat saya bekerja di Flores yang memberi saran padaku  untuk tidak  pindah ke Jakarta. Dia menakut-nakuti saya dengan mengatakan kalau Jakarta itu kejam, tidak kenal tetangga. Kenyataannya? Saya fine-fine saja. Hidup rukun dengan para tetangga yang mayoritas islam. Saat lebaran tiba kami berpatroli ke rumah tetangga muslim yang merayakan idul fitri dan tentu saja menu ketupat, lontong sayur dan opor ayam menjadi makanan buruanku.  Demikian pula saat natal meski tidak semuanya, beberapa orang islampun bersalaman dengan kami mengucapkan selamat natal.

Kemudian muncul pertanyaan adakah yang salah dan dirugikan dengan sikap toleransi yang kami terima? Ohhh ....tentu saja tidak. Sikap toleransi itu tetap berlanjut pada perusahaan tempat saya bekerja. Saya masih ingat bagaimana saya dengan dengan seorang putri Imut  yang berinisial FF dan agamais  asal Padang Sumatera Barat  ketika kami berdua berdinas di  pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat dalam satu kamar dan pada tempat yang sama kami secara bergantian melakukan ibadah di pagi hari. FF  dengan fasihnya melantunkan doanya dengan butiran-butiran tasbihnya sementara pada saat giliranku tiba Rosario menjadi temanku melantunkan doa salam maria. Kebersamaan kamipun terus berlanjut saat kami kembali ke Jakarta. Setiap pagi sebelum memulai aktifitas kantor kami saling mengingatkan siapa yang memulai sholat atau doa rosario.

Ketika bulan ramadhan  di tengah umat islam menjalankan ibadah puasa, saya bertugas ke Kolaka Sulawesi Tenggara, di sana saya diperlakukan istimewa oleh penduduk lokal dengan tetap memberi kebebasan bagi saya untuk tidak lupa makan dan minum pada siang hari.
Daaaaannn harapanku memasuki ruang mesjidpun terwujud ketika pimpinan perusahaan kami menikah, seluruh karyawan termasuk sayapun diundang mengikuti Akad Nikahnya pada mesjid Sunda Kelapa yang berlokasi di Jakarta Pusat. Saat berada dalam mesjid saya merasakan kedamaian sama halnya ketika saya berada di gereja katolik katedral Jakarta. “ Lho, koq sama ya rasanya dengan di Katedral, damai banget” ungkapku pada beberapa temanku yang muslim. “Iya bu. Pasti sama. Kita berada di tempat ibadah pasti damai” temanku menambahkan. Kamipun bertanya “ apa salahnya ya tempat ibadah kalau semua terasa damai seperti ini. Kenapa harus dibakar?”.
Ketika saya pindah kerja pada perusahaan temanku beberapa temanku yang muslimpun selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa menghadiri misa di gereja,  mengikuti  paduan suara di gereja, berbagi rejeki di gereja bahkan mengantar saya ke gereja mengikuti prosesi jalan salib, pengakuan dosa dan seremonial lainnya.

 Semoga bermanfaat.




Sumber Air Masih Jauh; Labuan Bajo Dilanda Krisis Air

By :   Ani Paga (Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)   Varanus komodoensi. (Foto : Constant Nan...