Sebuah Catatan Harian
By : Ani Paga
Awalnya saya
bingung menentukan judul catatan kecilku ini. Bermula dari postingan seorang
profesor gaul yang setiap edisi tulisannya menyajikan pentingnya saling
menghargai dalam setiap perbedaan terutama soal keyakinan (iman) yang membuat
saya kelepek-kelepek pada setiap postingannya dan saya sampaikan pada anak
angkat saya sekaligus teman kantor saya jika maminya (saya) sedang fall in love pada setiap pemikiran
profesor gaul tersebut. Istilah profesor gaul merujuk pada penampilannya yang up to
date plus konsep pemikirannya yang selalu membuat Netizennya tarik
napas legah setelah hari-harinya berhadapan dengan hirukpikuk pertentangan yang
terlalu mendewakan masing-masing pilihannya secara berlebihan hingga berujung
pada gagal paham (Istilah sang Profesor) tentang
pemahaman asal muasal beberapa keyakinan serta pelaksanaannya yang menurut
catatan sejarah lahir di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Profesor Gaul jebolan
salah satu pesantren di Jawa tengah itu rupanya memberikan pencerahan yang terbilang sempurna bagi Netizennya.
Maka tidak heran, sang profesor menjadi idola banyak orang, bahkan merindukan
kehadirannya kembali ke Nusantara tempat kelahirannya.
Sampailah aku pada
beberapa ingatan pengalaman kecilku di
Flores sebagai tempat kelahiranku hingga tumbuh menjadi seorang gadis dewasa kemudian
setelah menikah memilih hengkang dari Flores dan mengikuti suami hijrah ke
Jakarta. Di tahun 1980-an saat saya masih duduk di bangku SMP beberapa ruangan
rumah orangtuaku dijadikan tempat kost bagi perantau asal Jawa yang beragama
islam. Hari-hari kami lalui bersama tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Berada
di antara mayoritas katolik tidak membuatnya melupakan kewajibannya sebagai
seorang penganut islam menjalankan sholat lima waktu dan berpuasa pada bulan
ramadhan. Keluargaku pun memberikan kebebasan baginya untuk menjalankan
ibadahnya. Demikian pula ketika tetangga
atau ada yang meninggal di sekitar tempat tinggal kami si mas dan beberapa
temannyapun turut ambil bagian dalam duka dengan menyumbang lilin, beras,
minyak tanah pada keluarga berduka. Sama halnya ketika saya menjadi siswa SMA
Negeri I Ende sikap toleransi di antara siswa begitu tinggi. Tak heran, jika
acara halal bihalal atau membersihkan area mesjidpun banyak siswa katolik, kristen, Hindu yang terlibat. Demikian pula
sebaliknya saat orang Katolik, Kristen merayakan natal bersama, siswa islam dan
agama lainnpun dilibatkan juga pada kegiatan kerja bakti membersihkan area
gereja
Tahun 1999 saya
memutuskan pindah ke Jakarta. Jujur saja sebelumnya tak berminat sama sekali
untuk mencari nafkah di ibukota yang terbilang kota terpolusi ketiga di dunia
itu. Lagi-lagi ikut suamilah yang menjadi alasanku terpaksa menetap di jakarta.
Dan ternyata Tuhanpun bermaksud baik. Di Kota Batavia (sebutan Londo asal Belanda saat menguasai wilayah Teluk Sunda kelapa itu) saya
mencari sesuap nasi bersaing dengan jutaan orang lainnya. Singkat cerita, tiga hari menginjakkan kaki di Jakarta saya sudah berkenalan dengan para tetangga yang mayoritas
memeluk agama islam bahkan mereka tak sungkan mengantar lauk pauk bagi keluarga kecilku
secara gratis. Agak kontras dengan warning Big Boss saya di perusahaan real
estate tempat saya bekerja di Flores yang memberi saran padaku untuk tidak
pindah ke Jakarta. Dia menakut-nakuti saya dengan mengatakan kalau Jakarta
itu kejam, tidak kenal tetangga. Kenyataannya? Saya fine-fine saja. Hidup
rukun dengan para tetangga yang mayoritas islam. Saat lebaran tiba kami
berpatroli ke rumah tetangga muslim yang merayakan idul fitri dan tentu saja
menu ketupat, lontong sayur dan opor ayam menjadi makanan buruanku. Demikian pula saat natal meski tidak
semuanya, beberapa orang islampun bersalaman dengan kami mengucapkan selamat
natal.
Kemudian muncul
pertanyaan adakah yang salah dan dirugikan dengan sikap toleransi yang kami terima?
Ohhh ....tentu saja tidak. Sikap toleransi itu tetap berlanjut pada perusahaan
tempat saya bekerja. Saya masih ingat bagaimana saya dengan dengan seorang putri
Imut yang berinisial FF dan agamais asal Padang Sumatera Barat ketika kami berdua berdinas di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat dalam satu
kamar dan pada tempat yang sama kami secara bergantian melakukan ibadah di pagi
hari. FF dengan fasihnya melantunkan
doanya dengan butiran-butiran tasbihnya sementara pada saat giliranku tiba
Rosario menjadi temanku melantunkan doa salam maria. Kebersamaan kamipun terus
berlanjut saat kami kembali ke Jakarta. Setiap pagi sebelum memulai aktifitas
kantor kami saling mengingatkan siapa yang memulai sholat atau doa rosario.
Ketika bulan
ramadhan di tengah umat islam
menjalankan ibadah puasa, saya bertugas ke Kolaka Sulawesi Tenggara, di sana
saya diperlakukan istimewa oleh penduduk lokal dengan tetap memberi kebebasan
bagi saya untuk tidak lupa makan dan minum pada siang hari.
Daaaaannn harapanku
memasuki ruang mesjidpun terwujud ketika pimpinan perusahaan kami menikah,
seluruh karyawan termasuk sayapun diundang mengikuti Akad Nikahnya pada mesjid
Sunda Kelapa yang berlokasi di Jakarta Pusat. Saat berada dalam mesjid saya
merasakan kedamaian sama halnya ketika saya berada di gereja katolik katedral
Jakarta. “ Lho, koq sama ya rasanya dengan di Katedral, damai banget” ungkapku
pada beberapa temanku yang muslim. “Iya bu. Pasti sama. Kita berada di tempat
ibadah pasti damai” temanku menambahkan. Kamipun bertanya “ apa salahnya ya
tempat ibadah kalau semua terasa damai seperti ini. Kenapa harus dibakar?”.
Ketika saya pindah
kerja pada perusahaan temanku beberapa temanku yang muslimpun selalu
mengingatkan saya untuk tidak lupa menghadiri misa di gereja, mengikuti paduan suara di gereja, berbagi
rejeki di gereja bahkan mengantar saya ke gereja mengikuti prosesi jalan salib,
pengakuan dosa dan seremonial lainnya.