Selasa, 21 Agustus 2018

Sumber Air Masih Jauh; Labuan Bajo Dilanda Krisis Air


By :  Ani Paga

(Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)
 
Varanus komodoensi. (Foto : Constant Nandus)

Labuan Bajo ibukota Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan pariwisatanya sebagai sektor primadona makin menyedot perhatian dunia. Kabupaten yang merupakan pemekaran dari kabupaten Induk Kabupaten Manggarai ini setiap tahunnya ramai dikunjungi wisatawan mancanegara  maupun wisatawan domestik. Tercatat sejak Januari hingga bulan Juni 2018 sebanyak 68.829 wisatawan mengunjungi Labuan Bajo. Pesona Komodo sebagai daya tarik utama wisatawan yang didukung dengan keindahan obyek wisata alam dan budayanya yang sangat eksotik mampu menggeser Bali  sebagai destinasi wisata yang sebelumnya telah dikenal luas di mancanegara. Kini Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai satu dari 10 destinasi prioritas di luar Bali  yang diperkuat oleh arahan Presiden Joko Widodo di mana Labuan Bajo ditetapkan sebagai Top Four bersama Danau  Toba, Mandalika dan Borobudur.

Jika beberapa dasawarsa yang lalu para wisatawan hanya mengenal Bali kini perhatian wisatawan bergeser ke timur pulau Bali yakni Lombok, Sumbawa dan Flores. Flores menjadi tumpahan wisatawan pada beberapa tahun terakhir. Para wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik berdecak kagum pada keindahan pulau nusa bunga itu. Tiga orang wisatawan perempuan asal Italia yang saya temui dalam perjalanan Labuan Bajo menuju Denpasar beberapa waktu lalu menyebut Flores is amazing (keindahan Flores sangat luar biasa). Mereka menilai Flores seperti surga wisata yang baru mereka temukan.
Pelabuhan Labuan Bajo (Foto : Constant Nandus)


Sebagai Gate Way (pintu masuk) pulau Flores kota kecil dengan ratusan obyek wisata alam serta budayanya ini terus berupaya mempercantik diri.  Saat saya mengikuti pelatihan manajemen pariwisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Labuan Bajo di tahun 1998 Drs. Johannis Pake Pani yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas  Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur menyebutkan Komodo menjadi trade mark (merek dagang) industri pariwisata Labuan Bajo. Kehidupan pariwisata yang merupakan industri bebas polusi dan multy effect ini terus berkembang pesat di Labuan Bajo. Lihat saja beberapa hotel berbintang, travel agent, restoran makin bertumbuh menghiasi kota di ujung barat pulau Flores ini. Pembangunan Bidang transportasipun  terus digenjot. Sektor perhubungan udara misalnya jika sebelumnya landasan pacu bandara  Komodo hanya mampu didarati pesawat twin otter milik  Merpati Nusantara Airline,  setelah dilakukan kajian master plan Bandar udara ini mampu didarati pesawat narrow body dengan tipe Airbus A320 yang berkapasitas 166 seat; 12 seat merupakan kelas bisnis dan 144 seatnya merupakan kelas ekonomi  milik Batik Air sebuah anak perusahaan Lion Air. Garuda Indonesia yang telah lebih dulu membuka rute penerbangan Jakarta – Labuan Bajopun menerjunkan pesawat jenis bombardier CRJ1000 Nextgen yang berkapasitas 96 seat. Sriwijaya Airpun tak mau ketinggalan merebut peluang dengan membuka jalur penerbangan Denpasar Labuan Bajo dengan menggunakan pesawat boeing 737 500. Sementara Winsg Air yang merupakan anak perusahaan Lion Air juga menerjunkan ATR 72-600nya melayani arus penumpang Denpasar Labuan Bajo.

Selain transportasi udara akses dengan transportasi lautpun berlayar pergi dan menuju Labuan Bajo. Bahkan yang dulunya ditempuh dengan waktu yang lama kini dengan adanya toll laut pelayaran Surabaya – Labuan Bajo hanya ditempuh dengan waktu 26 jam.

Dilanda Krisis Air

Siapa sangka di balik pesona Labuan Bajo yang berhasil menggaet perhatian dunia ternyata masih menyimpan beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebut saja kebutuhan air bersih yang masih menjadi persoalan krusial di kota Labuan Bajo sebagai destinasi wisata favorit jaman now bahasa gaul anak muda sekarang. Beberapa warga Labuan Bajo mengeluhkan pendistribusian air PDAM yang tidak merata di rumah-rumah penduduk.  Leonardus Nyoman seorang pelaku usaha wisata mengeluhkan persoalan  kekurangan air  masih menjadi masalah klasik di Labuan Bajo. Bukan saja kesulitan air menurutnya kekurangan bahan bakar juga masih sering terjadi di Labuan Bajo.  Lebih lanjut Leo mengatakan kedua masalah ini berpengaruh besar dan menghambat kegiatan wisata di Manggarai Barat

Yulti  perempuan asal Labuan Bajo  mengatakan  Labuan Bajo memiliki beberapa sumber  mata air  yang bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi masyarakat Labuan Bajo. Dalam sebuah disuksi kecil dia menyebutkan  selain air dari mata air  Melo sebenarnya kebutuhan air bersih masih bisa di peroleh dari sumber mata air yg ada di sekitar kota Labuan Bajo sendiri  seperti  mata air wae Tuak di daerah Wae Sambi , Wae Kemiri, Wae Medu , Wae Mata dan terdapat lagi satu sumber mata air  di sernaru , daerah Lancang,  arah airport dan juga di dekat kantor bupati

Sementara itu Ir. Titus Kantur  ahli teknik lingkungan (air minum dan air limbah)  asal Manggarai Flores yang menetap di Jakarta mengatakan  dalam Master Plan Air Minum Labuan Bajo; semua   sumber mata air di Labuan Bajo telah diidentintifikasi  mana yg potensial berdasarkan kualitas, kuantitas, teknis serta tidak  bertentangan dengan regulasi yang ada.  Menurutnya perlu dilakukan perencanaan yang matang.  Kapasitas terpasang saat ini masih  tercukupi hanya saja water lossesnya yang masih tinggi. Dikatakannya secara teknis masih terdapat pernasalahannya yakni  masalah sumber dan jaringan yang amburadul. Dia menyarankan agar menggunakan konsultan yg kompeten dalam perencanaan air minum.. “Yang tidak kalah pentingnya adalah aspek kelembagaan baik regulator mau pun operatornya. PDAM harus didukung oleh sumberdaya manusia yang  yang mumpuni jika tidak ya tinggal di tempat” ujar Titus.
Mathias Mance Mboi (Foto : dokpri)

Air Minum Labuan Bajo  Berbenah

Matias Mance Mboi  salah satu anggota Pokja percepatan pengembangan Labuan Bajo pada  Kemenko Maritim menyatakan dalam rangka persiapan Labuan Bajo sebagai destinasi prioritas yang menjadi  tempat kunjungan para peserta Annual Meeting IMF-WB 2018 yang akan berlangsung di bulan Oktober tahun 2018 mendatang   kota Labuan Bajo kini dalam tahap poses pembenahan yang dipimpin langsung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut B. Panjaitan
Menanggapi krisis air di Labuan Bajo Mance menjelaskan persoalan air di Labuan Bajo itu kompleks. Mulai dari masalah sumber mata air dan elevasi menuju kota Labuan Bajo, sistem dan jaringan distribusi sampai kepada manajemen pengelolaan air. Terkait sumber mata air sebetulnya Labuan Bajo memiliki  beberapa sumber (saat ini ada 4 sumber) yang memiliki debit yang sangat besar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap individu maupun usaha jasa pariwisata di Labuan Bajo.. Yang menjadi persoalannya adalah topografi  Labuan Bajo yang bertebing-tebing  tidak  memungkinkan air dapat  mengalir dengan baik sehingga perlu dilakukan penambahan elevasi daya dorong dari sumber ke jaringan distribusi.. Terkait sistem dan jaringan distribusi, akibat dari kondisi topografi yang buruk dari daerah ini maka melalui pemerintah pusat dalam hal ini kemenko maritim, SPAM Pusat, Pemkab Manggarai Barat pada tahun ini akan menambahkan 2  unit pompa booster yang akan membantu mendorong air dari sumber mata air ke jaringan distribusi ke kota Labuan Bajo.. Proses kegiatan ini sedang dilakukan dan mudah-mudahan akan segera teratasi pada bulan Agustus 2018.  
Sedangkan terkait manajemen pengelolaan PDAM, saat ini PDAM Manggarai Barat  baru resmi terurus secara independen dan profesional yang baru berjalan dua tahun terakhir ini.. Pembenahan manajemen termasuk sistem kerja serta sumber daya manusia yang  mumpuni masih dalam  tahap proses seleksi.. Selain itu pendataan yg akurat terkait kebutuhan air baik individu, rumah tangga serta usaha jasa pariwisata terus dilakukan Dikatakannya secara bisnis Labuan Bajo berkembang begitu cepat. sehingga membutuhkan data dan analisa data yg akurat sehingga total kebutuhan air dan kekuatan sumber air perlu dihitung secara berkala dengan proyeksi kedepan yang lebih  baik.. Pemetaan masalah kebutuhan air harus diikuti dengan zonasi-zonasi yang mempertimbangkan populasi penduduk, aktifitas usaha serta kondisi topografi sehingga semakin mematangkan perencanaan pendistribusian air yang baik..  Pada sisi lain, iuran air PDAM harus  dibuatkan sesuai harga yang pantas dan layak sesuai dgn tingkat pelayanan serta ongkos yang harus  dikeluarkan manajemen PDAM dalam  menjaga stabilitas ketersediaan air.









Kamis, 04 Januari 2018

Sensasi Beda Bakar Batu dan Makan Suami

Mama Online Aja: : Makan Suami dan Bakar Batu ? ;  Rasakan Sensasi Berbeda Dari Indonesia Timur By : Ani  Paga Hey Guys…... Anda penggemar kul...

Kamis, 02 Maret 2017

Berpuasa Itu Indah

By : Ani Paga


Tahun 2010 ketika menjalankan medical check up di rumah sakit Santa Elisabet kota Bekasi suami saya disarankan dokter internis yang merawatnya untuk menjalankan puasa.
Suamiku hanya diperbolehkan menenggak minuman air mineral sebanyak 1 liter bahkan lebihpun diperbolehkan. Reaksi  suamiku yang berkulit kuning langsat langsung berubah menjadi merah. Suami saya agak terkejut dan  stress mendengar saran Dokter itu. Kata PUASA merupakan satu hal yang belum pernah dilakukannya. Dengan sabar aku meyakinkannya dan mengajaknya melakukan puasa.

Kutuntun suamiku menuju Kapel kecil Santa Elisabeth yang berlokasi di belakang rumah sakit Elisabeth milik biarawati.
Di dalam kapel itu saya menyuruh dia berdoa Rosario di depan altar. Ketika dia sedang khusuk berdoa saya membisikkan satu kalimat pada telinganya “ Mintalah Tubuh dan Darah Yesus sebagai santapan rohanimu siang ini” demikian saranku padanya. Entah mengapa kalimat itu begitu mendadak mampir dalam hatiku.

Usai berdoa Rosario aku menanyakan suamiku apa yang terjadi. Puji Tuhan dia mengalami mujizat yang luar biasa. Rasa lapar dan haus yang awalnya menyiksanya kini berubah menjadi kenyang dan dia terlihat lebih segar.

Beberapa waktu kemudian kami kembali ke lobby Rumah sakit. Sembari menunggu terapi selanjutnya kami membeli buku bacaan dan membacanya hingga sore hari. Rasa sakit yang mendera tubuhnya berangsur pulih. Dokter yang merawatnyapun tersenyum melihat semangatnya berpuasa. Sayapun menceritakan mujizat yang dialaminya pada dokter itu.

Sejak kejadian itu, saya sendiri mulai melatih diri saya berpuasa. Setiap pagi hari saya saya selalu berdoa Rosario meminta kekuatan Tuhan.  Awalnya saya hanya mutih (makan nasi putih dan minum air putih) sembari berdoa. Lagi-lagi kalimat “Tuhan kenyangkanlah aku dengan Tubuh dan Darah SuciMu yang kudus” menjadi doaku ketika rasa lapar dan haus menggodaku.  

Puasa Prapaskah tahun berikutnya saya mencoba menjalankan puasa penuh. Setiap kali rasa lapar menghantuiku aku kembali berdoa agar setan yang menggangguku dijauhkan dariku dengan kekuatan tongkat serta tubuh darah suci Yesus. Alhasil aku berhasil puasa tidak makandan minum sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 18.00 di sore hari.

Tidak hanya puasa tidak makan dan minum, sayapun bisa mengendalikan emosi saya untuk tidak marah, benci, dendam pada orang lain. Adanya Kemauan dan Kekuatan yang berasal dari diri sendiri merupakan kunci sukses berpuasa. Satu saja pertanyaan saya saat itu mengapa saudara kita yang lain bisa menjalankan puasa dan mengapa kita tidak.

Ternyata tidak ada kata TIDAK BISA jika benar-benar kita bertekad menjalankan puasa. Dan satu hal yang perlu dilakukan Jangan Lupa Berbagi Dengan Saudara Kita yang kekurangan meski kita sendiripun sedang mengalami kesulitan. 
Memberi dari kekurangan tidak akan membuat kita Kekurangan.

Doa yang paling ampuh ketika kita dalam kondisi sedang lapar dan haus.


Selamat menjalankan puasa Prapaskah 2017 semoga bermanfaat.


Tabe (Salam khas Manggarai Flores)


Sabtu, 21 Januari 2017

Ketika Pertama Kali Menyusuri Pantai Barat Sumatera Utara




Sebuah Catatan perjalanan;


By : Ani Paga

Perjalanan  yang melelahkan yang kutempuh pada awal Juni 2016 tercatat sebagai perjalanan pertamaku menyusuri pantai bagian barat provinsi Sumatera Utara. Bermodal nekad dan keberanian kuterima  tugas kantor itu meski harus bepergian seorang diri. Keyakinanku yang begitu kuat pada kasih sang empunya kehidupan membuatku berani menerima tugas tersebut. 


Jarum jam menunjukkan angka 09.00 waktu Indonesia Barat pesawat Garuda Airlines yang  hendak membawa kami ke Sibolga ibukota Tapanuli Tengah beranjak dari bandar udara Soekarno Hatta Jakarta. Melewati Selat Sunda dan kemdudian menyusuri Lampung, Sumatera Selatan  dan Provinsi lainnya di pulau Sumatera membuatku tak henti-hentinya mengarahkan  kamera ponselku dari arah jendela pesawat udara. Hingga akupun berlarut dalam tidur meski Cuma satu jam. Memasuki Sibolga aku terbangun dan terkagum-kagum pada keindahan alam Sumatera Utara bagian  barat yang berbukit-bukit dan tampak dari kejauhan hutan sawit yang telah dipeta-petakan. Beberapa gugusan pulau tak berpenghuni menjadi sasaran bidik kameraku. Tepat pukul 11.00 lebih sedikit pesawat kami sukses landing di bandara Dr. Ferdinand L. Tobing Sibolga. Dr. Ferdinand L. Tobing merupakan salahsatu nama pahlawan asal kabupaten dengan sejuta pesona ini.


Pulau kecil menjelang landing di Sibolga
Setelah berselfie sejenak di bandara itu saya mengutak atik ponselku menghubungi sopir mobil rental  yang telah kuhubungi dari Jakarta. Puji Tuhan tidak berapa lama Marthin Galung, Sitanggang dan Pasaribu yang kucari-cari ternyata berdiri di depan mataku. Meski sempat muncul rasa takut dan ragu jangan-jangan  kalau mereka orang yang bukan akan mengantarku menuju Tapanuli Selatan. Nada bicara mereka yang terdengar agar kasar membuat nyaliku  tak mau kalah juga. Ah tak apalah kucoba menyapa mereka dengan nada kasarku yang bergaya Flores. Dan alhasil ternyata merekapun menjadi sahabat yang baik dan menjadi teman perjalananku siang itu. Tak berselang lama waktunya kuambil keputusan untuk langsung tancap gas menyusuri pantai Barat Sumatera Utara itu.

Awalnya di Jakarta saya ditakuti teman kantor kalau medan yang akan kutempuh terbilang cukup ekstrim. Alamnya yang begitu hijau dan subur meski harus melewati ratusan tikungan tajam mematahkan rasa takutku. Ahhh... ini mah  kecil tak seberapa ekstrimnya dibanding medan di Flores yang di sekitar ruas jalan penuh dengan jurang-jurang menganga yang setiap saat siap  menerima mangsa. Justru medan seperti inilah yang selalu saya dambakan.

Sepanjang perjalanan salak Tapanuli yang memiliki rasa berbeda dan lebih enak dari salak-salak yang dipasarkan di Jakarta bertebaran di pinggir jalan. Aku mengajak Martin dan Sitanggang menghentikan laju kendaraan.  Dua sahabat yang kendati memiliki tampang garang ternyata menuruti apa saja kemauanku. Salak yang terbungkus rapi dalam anyaman daun pandan begitu menggoda selera. Aku merapat dan bertanya pada penjualnya “ Bang berapa harga salak ini?” aku melemparkan pertanyaan pada penjualnya. “Sepuluh ribu Rupiah satu lumut” ( ah entahlah apa namanya anyaman daun pandan itu). Ah murah amat ‘ gumamku. Langsung saja saya ambil dan menempatkkan pada jok depan samping tempat dudukku. Sitanggang dan Marthin ternyata suka juga pada salak. Rasa lapar mulai menggodaku . Tugasku yang harus diselesaikan hari itu juga menunda jam makan siangku. Pesona kota padang Sidenmpuan Tapanuli Selatan menghalau rasa laparku.


Tampak kota Padang Sidimpuan Tapanuli dari Kejauhan
Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya 30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas penerbangan.  Setelah bekerja beberapa jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki  1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air anak perusahaan Lion Air  beroperasi pada bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip. 

 Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu,  tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.

 Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya 30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas penerbangan.  Setelah bekerja beberapa jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki  1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air anak perusahaan Lion Air  beroperasi pada bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip.  Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu,  tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.

Mentaripun terus berusaha menyembunyikan dirinya di ufuk barat. Kekagumanku pada keindahan alamnya terus bergejolak. Lagi-lagi aku mengarahkan kamera ponselku pada mentari yang malu-malu pamit dari pandangan kami. Jarum jam menunjukkan angka 18.30 waktu Indonesia Bagian Barat mobil yang kami tumpangi menembus kota Sibolga. Akupun meminta Sitanggang menemaniku mencari hotel tempat aku melepas rasa lelah. Beberapa hotel kecil di pinggir jalan terlihat remang-remang mengurungkan niatku untuk menikmatinya. Aku meminta Sitanggang mencari hotel lain yang cahayanya lebih terang dan tidak memunculkan kesan seram dan ecek-ecek. Tibalah saatnya Sitanggang menawarkan hotel berbintang yang berlokasi di bibir pantai Pandan dan akupun ,menjatuhkan piliuhanku pada Hotel PIA Pantai Pandan. Hotel yang memiliki banyak lantai dan   terbilang tarifnya lumayan mahal.Setelah menaruh barang bagasiku Sitanggang  memohon pamit padaku menuju markasnya di kota Sibolga dan berjanji esok pagi menjemputku  untuk diantarkan ke bandara Ferdinand L. Tobing Sibolga.

Malam itu mataku terasa sulit terpejam. Aku tak tidur hingga menembus subuh tiba. Pukul 04.30 aku berusaha tidur dan puji Tuhan aku sempat tertidur hingga pukul 06.00. Suara deburan ombak pantai membangunkanku. Aku tersentak ternyata kamar tidurku berlokasi sangat dekat dengan bibir pantai. Kucoba keluar kamar dan menikmati ombak pantai yang tinggi dan menembus halaman belakang hotel. Rasa takut sempat muncul terbayang jika tsunami yang selalu mengancam kawasan pantai Barat Sumatera terulang kembali. Betapa tidak wilayah ini sempat menjadi bagian terpaan gempa bumi yang melanda Aceh tahun 2004 lalu. Nasibnya masih beruntung karena tak menelan korban jiwa seperti di Padang atau Aceh.
Pantai Pandan Tapanuli Tengah
Ah sudahlah lupakan saja cerita tsunami. Dua sosok manusia yang berdiri santai bersandar pada pagar nampak sedang menikmati keindahan pantai. Dari arah belakang kudekati mereka dan meminta bantuan mereka untuk memotretku. Ah ternyata mereka hanya patung yang tampak belakang seperti manusia asli berbalut beberapa helai kain. Agak lama aku berada di sana menikmati deburan ombak pantai dengan ditemani anak-anak pantai yang mencoba melawan berperang dengan ombak. Aku sendiri tidak  berani bermain ombak. Bayangan terseret ombak membuatku nyaliku ciut. Tak apa,  aku cukup menikmati saja.
Bersama dua patung
Tak lama berselang, petugas restoran hotel memanggilku menawarkan breakfast (sarapan pagi). Dengan sajian menu prasmanan yang terkesan mewah dan enak kusantap breakfastku bersama tamu hotel lainnya. Selanjutnya kucoba menyimak souvenir khas pantai Pandan Sibolga yang terpajang pada etalase hotel untuk kubeli dan membawanya pulang tetapi baru aku sadar jika hari itu saya harus masih menempuh perjalanan ke kota Medan ibukota provinsi Sumatera Utara sebagai tempat tugasku berikutnya. Dari Sibolga pesawat Wings Air dengan jenis ATR 72 yang menerbangkan aku ke kota Medan aku menyaksikan keindahan danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Horas Pajua jua Sumatera Utara demikian salam khasmu. Semoga suatu saat saya bisa kembali mengunjungimu.


Medio Januari 2017
Kupersembahkan kepada keluarga besar papa Pit Paga sebagai obat penghalau dukaku kehilangan papa Pit Paga


Jumat, 20 Mei 2016

Kemilau Warna – Warni Perbedaan Keyakinan


 Sebuah Catatan Harian 


By       : Ani Paga


Awalnya saya bingung menentukan judul catatan kecilku ini. Bermula dari postingan seorang profesor gaul yang setiap edisi tulisannya menyajikan pentingnya saling menghargai dalam setiap perbedaan terutama soal keyakinan (iman) yang membuat saya kelepek-kelepek pada setiap postingannya dan saya sampaikan pada anak angkat saya sekaligus teman kantor saya jika maminya (saya) sedang fall in love pada setiap pemikiran profesor gaul tersebut. Istilah profesor gaul merujuk pada penampilannya yang up to date plus konsep pemikirannya yang selalu membuat Netizennya tarik napas legah setelah hari-harinya berhadapan dengan hirukpikuk pertentangan yang terlalu mendewakan masing-masing pilihannya secara berlebihan hingga berujung pada gagal paham (Istilah sang Profesor) tentang pemahaman asal muasal beberapa keyakinan serta pelaksanaannya yang menurut catatan sejarah lahir di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Profesor Gaul jebolan salah satu pesantren di Jawa tengah itu rupanya memberikan pencerahan yang terbilang sempurna bagi Netizennya. Maka tidak heran, sang profesor menjadi  idola banyak orang, bahkan merindukan kehadirannya kembali ke Nusantara tempat kelahirannya.

Sampailah aku pada beberapa ingatan  pengalaman kecilku di Flores sebagai tempat kelahiranku hingga  tumbuh menjadi seorang gadis dewasa kemudian setelah menikah memilih hengkang dari Flores dan mengikuti suami hijrah ke Jakarta. Di tahun 1980-an saat saya masih duduk di bangku SMP beberapa ruangan rumah orangtuaku dijadikan tempat kost bagi perantau asal Jawa yang beragama islam. Hari-hari kami lalui bersama tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Berada di antara mayoritas katolik tidak membuatnya melupakan kewajibannya sebagai seorang penganut islam menjalankan sholat lima waktu dan berpuasa pada bulan ramadhan. Keluargaku pun memberikan kebebasan baginya untuk menjalankan ibadahnya.  Demikian pula ketika tetangga atau ada yang meninggal di sekitar tempat tinggal kami si mas dan beberapa temannyapun turut ambil bagian dalam duka dengan menyumbang lilin, beras, minyak tanah pada keluarga berduka. Sama halnya ketika saya menjadi siswa SMA Negeri I Ende sikap toleransi di antara siswa begitu tinggi. Tak heran, jika acara halal bihalal atau membersihkan area mesjidpun banyak siswa katolik,  kristen, Hindu yang terlibat. Demikian pula sebaliknya saat orang Katolik,  Kristen  merayakan natal bersama, siswa islam dan agama lainnpun dilibatkan juga pada kegiatan kerja bakti membersihkan area gereja

Tahun 1999 saya memutuskan pindah ke Jakarta. Jujur saja sebelumnya tak berminat sama sekali untuk mencari nafkah di ibukota yang terbilang kota terpolusi ketiga di dunia itu. Lagi-lagi ikut suamilah yang menjadi alasanku terpaksa menetap di jakarta. Dan ternyata Tuhanpun bermaksud baik. Di Kota Batavia (sebutan Londo asal Belanda saat menguasai wilayah Teluk Sunda kelapa itu) saya mencari sesuap nasi bersaing dengan jutaan orang lainnya.  Singkat cerita, tiga hari menginjakkan kaki  di  Jakarta saya sudah berkenalan dengan para tetangga yang mayoritas memeluk agama islam bahkan mereka tak sungkan mengantar lauk pauk bagi keluarga kecilku secara gratis. Agak kontras dengan warning Big Boss saya di perusahaan real estate tempat saya bekerja di Flores yang memberi saran padaku  untuk tidak  pindah ke Jakarta. Dia menakut-nakuti saya dengan mengatakan kalau Jakarta itu kejam, tidak kenal tetangga. Kenyataannya? Saya fine-fine saja. Hidup rukun dengan para tetangga yang mayoritas islam. Saat lebaran tiba kami berpatroli ke rumah tetangga muslim yang merayakan idul fitri dan tentu saja menu ketupat, lontong sayur dan opor ayam menjadi makanan buruanku.  Demikian pula saat natal meski tidak semuanya, beberapa orang islampun bersalaman dengan kami mengucapkan selamat natal.

Kemudian muncul pertanyaan adakah yang salah dan dirugikan dengan sikap toleransi yang kami terima? Ohhh ....tentu saja tidak. Sikap toleransi itu tetap berlanjut pada perusahaan tempat saya bekerja. Saya masih ingat bagaimana saya dengan dengan seorang putri Imut  yang berinisial FF dan agamais  asal Padang Sumatera Barat  ketika kami berdua berdinas di  pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat dalam satu kamar dan pada tempat yang sama kami secara bergantian melakukan ibadah di pagi hari. FF  dengan fasihnya melantunkan doanya dengan butiran-butiran tasbihnya sementara pada saat giliranku tiba Rosario menjadi temanku melantunkan doa salam maria. Kebersamaan kamipun terus berlanjut saat kami kembali ke Jakarta. Setiap pagi sebelum memulai aktifitas kantor kami saling mengingatkan siapa yang memulai sholat atau doa rosario.

Ketika bulan ramadhan  di tengah umat islam menjalankan ibadah puasa, saya bertugas ke Kolaka Sulawesi Tenggara, di sana saya diperlakukan istimewa oleh penduduk lokal dengan tetap memberi kebebasan bagi saya untuk tidak lupa makan dan minum pada siang hari.
Daaaaannn harapanku memasuki ruang mesjidpun terwujud ketika pimpinan perusahaan kami menikah, seluruh karyawan termasuk sayapun diundang mengikuti Akad Nikahnya pada mesjid Sunda Kelapa yang berlokasi di Jakarta Pusat. Saat berada dalam mesjid saya merasakan kedamaian sama halnya ketika saya berada di gereja katolik katedral Jakarta. “ Lho, koq sama ya rasanya dengan di Katedral, damai banget” ungkapku pada beberapa temanku yang muslim. “Iya bu. Pasti sama. Kita berada di tempat ibadah pasti damai” temanku menambahkan. Kamipun bertanya “ apa salahnya ya tempat ibadah kalau semua terasa damai seperti ini. Kenapa harus dibakar?”.
Ketika saya pindah kerja pada perusahaan temanku beberapa temanku yang muslimpun selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa menghadiri misa di gereja,  mengikuti  paduan suara di gereja, berbagi rejeki di gereja bahkan mengantar saya ke gereja mengikuti prosesi jalan salib, pengakuan dosa dan seremonial lainnya.

 Semoga bermanfaat.




Sumber Air Masih Jauh; Labuan Bajo Dilanda Krisis Air

By :   Ani Paga (Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)   Varanus komodoensi. (Foto : Constant Nan...