Sebuah Catatan perjalanan;
By
: Ani Paga
Perjalanan yang melelahkan yang kutempuh pada awal Juni
2016 tercatat sebagai perjalanan pertamaku menyusuri pantai bagian barat
provinsi Sumatera Utara. Bermodal nekad dan keberanian kuterima tugas kantor itu meski harus bepergian
seorang diri. Keyakinanku yang begitu kuat pada kasih sang empunya kehidupan
membuatku berani menerima tugas tersebut.
Jarum jam menunjukkan angka 09.00 waktu Indonesia Barat pesawat Garuda
Airlines yang hendak membawa kami ke
Sibolga ibukota Tapanuli Tengah beranjak dari bandar udara Soekarno Hatta
Jakarta. Melewati Selat Sunda dan kemdudian menyusuri Lampung, Sumatera Selatan
dan Provinsi lainnya di pulau Sumatera
membuatku tak henti-hentinya mengarahkan kamera ponselku dari arah jendela pesawat
udara. Hingga akupun berlarut dalam tidur meski Cuma satu jam. Memasuki Sibolga
aku terbangun dan terkagum-kagum pada keindahan alam Sumatera Utara bagian barat yang berbukit-bukit dan tampak dari
kejauhan hutan sawit yang telah dipeta-petakan. Beberapa gugusan pulau tak
berpenghuni menjadi sasaran bidik kameraku. Tepat pukul 11.00 lebih sedikit
pesawat kami sukses landing di bandara Dr. Ferdinand L. Tobing Sibolga. Dr.
Ferdinand L. Tobing merupakan salahsatu nama pahlawan asal kabupaten dengan
sejuta pesona ini.
![]() |
![]() |
![]() |
| Pulau kecil menjelang landing di Sibolga |
Setelah berselfie sejenak di bandara itu
saya mengutak atik ponselku menghubungi sopir mobil rental yang telah kuhubungi dari Jakarta. Puji Tuhan
tidak berapa lama Marthin Galung, Sitanggang dan Pasaribu yang kucari-cari
ternyata berdiri di depan mataku. Meski sempat muncul rasa takut dan ragu
jangan-jangan kalau mereka orang yang bukan
akan mengantarku menuju Tapanuli Selatan. Nada bicara mereka yang terdengar
agar kasar membuat nyaliku tak mau kalah
juga. Ah tak apalah kucoba menyapa mereka dengan nada kasarku yang bergaya
Flores. Dan alhasil ternyata merekapun menjadi sahabat yang baik dan menjadi
teman perjalananku siang itu. Tak berselang lama waktunya kuambil keputusan
untuk langsung tancap gas menyusuri pantai Barat Sumatera Utara itu.
Awalnya di Jakarta saya ditakuti teman
kantor kalau medan yang akan kutempuh terbilang cukup ekstrim. Alamnya yang
begitu hijau dan subur meski harus melewati ratusan tikungan tajam mematahkan
rasa takutku. Ahhh... ini mah kecil tak
seberapa ekstrimnya dibanding medan di Flores yang di sekitar ruas jalan penuh
dengan jurang-jurang menganga yang setiap saat siap menerima mangsa. Justru medan seperti inilah
yang selalu saya dambakan.
Sepanjang perjalanan salak Tapanuli yang
memiliki rasa berbeda dan lebih enak dari salak-salak yang dipasarkan di
Jakarta bertebaran di pinggir jalan. Aku mengajak Martin dan Sitanggang
menghentikan laju kendaraan. Dua sahabat
yang kendati memiliki tampang garang ternyata menuruti apa saja kemauanku.
Salak yang terbungkus rapi dalam anyaman daun pandan begitu menggoda selera.
Aku merapat dan bertanya pada penjualnya “ Bang berapa harga salak ini?” aku
melemparkan pertanyaan pada penjualnya. “Sepuluh ribu Rupiah satu lumut”
( ah entahlah apa namanya anyaman daun pandan itu). Ah murah amat ‘ gumamku.
Langsung saja saya ambil dan menempatkkan pada jok depan samping tempat
dudukku. Sitanggang dan Marthin ternyata suka juga pada salak. Rasa lapar mulai
menggodaku . Tugasku yang harus diselesaikan hari itu juga menunda jam makan
siangku. Pesona kota padang Sidenmpuan Tapanuli Selatan menghalau rasa laparku.
Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya 30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas penerbangan. Setelah bekerja beberapa jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki 1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air anak perusahaan Lion Air beroperasi pada bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip.
Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu, tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.
Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya
30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas
penerbangan. Setelah bekerja beberapa
jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati
armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki 1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air
anak perusahaan Lion Air beroperasi pada
bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip. Hari semakin
gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga
di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut
dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di
pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku
kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah
dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi
makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah
kalau begitu, tak apa kutraktir asalkan perjalananku
lancar.
![]() |
| Tampak kota Padang Sidimpuan Tapanuli dari Kejauhan |
Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu, tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.
Mentaripun terus berusaha menyembunyikan
dirinya di ufuk barat. Kekagumanku pada keindahan alamnya terus bergejolak.
Lagi-lagi aku mengarahkan kamera ponselku pada mentari yang malu-malu pamit
dari pandangan kami. Jarum jam menunjukkan angka 18.30 waktu Indonesia Bagian
Barat mobil yang kami tumpangi menembus kota Sibolga. Akupun meminta Sitanggang
menemaniku mencari hotel tempat aku melepas rasa lelah. Beberapa hotel kecil di
pinggir jalan terlihat remang-remang mengurungkan niatku untuk menikmatinya.
Aku meminta Sitanggang mencari hotel lain yang cahayanya lebih terang dan tidak
memunculkan kesan seram dan ecek-ecek.
Tibalah saatnya Sitanggang menawarkan hotel berbintang yang berlokasi di bibir
pantai Pandan dan akupun ,menjatuhkan piliuhanku pada Hotel PIA Pantai Pandan.
Hotel yang memiliki banyak lantai dan
terbilang tarifnya lumayan mahal.Setelah menaruh barang bagasiku
Sitanggang memohon pamit padaku menuju
markasnya di kota Sibolga dan berjanji esok pagi menjemputku untuk diantarkan ke bandara Ferdinand L. Tobing
Sibolga.
Malam itu mataku terasa sulit terpejam.
Aku tak tidur hingga menembus subuh tiba. Pukul 04.30 aku berusaha tidur dan
puji Tuhan aku sempat tertidur hingga pukul 06.00. Suara deburan ombak pantai
membangunkanku. Aku tersentak ternyata kamar tidurku berlokasi sangat dekat
dengan bibir pantai. Kucoba keluar kamar dan menikmati ombak pantai yang tinggi
dan menembus halaman belakang hotel. Rasa takut sempat muncul terbayang jika
tsunami yang selalu mengancam kawasan pantai Barat Sumatera terulang kembali.
Betapa tidak wilayah ini sempat menjadi bagian terpaan gempa bumi yang melanda
Aceh tahun 2004 lalu. Nasibnya masih beruntung karena tak menelan korban jiwa
seperti di Padang atau Aceh.
![]() |
| Pantai Pandan Tapanuli Tengah |
Ah sudahlah lupakan saja cerita tsunami.
Dua sosok manusia yang berdiri santai bersandar pada pagar nampak sedang
menikmati keindahan pantai. Dari arah belakang kudekati mereka dan meminta
bantuan mereka untuk memotretku. Ah ternyata mereka hanya patung yang tampak
belakang seperti manusia asli berbalut beberapa helai kain. Agak lama aku
berada di sana menikmati deburan ombak pantai dengan ditemani anak-anak pantai
yang mencoba melawan berperang dengan ombak. Aku sendiri tidak berani bermain ombak. Bayangan terseret ombak
membuatku nyaliku ciut. Tak apa, aku
cukup menikmati saja.
![]() |
| Bersama dua patung |
Tak lama berselang, petugas restoran
hotel memanggilku menawarkan breakfast
(sarapan pagi). Dengan sajian menu prasmanan yang terkesan mewah dan enak
kusantap breakfastku bersama tamu
hotel lainnya. Selanjutnya kucoba menyimak souvenir khas pantai Pandan Sibolga
yang terpajang pada etalase hotel untuk kubeli dan membawanya pulang tetapi
baru aku sadar jika hari itu saya harus masih menempuh perjalanan ke kota Medan
ibukota provinsi Sumatera Utara sebagai tempat tugasku berikutnya. Dari Sibolga
pesawat Wings Air dengan jenis ATR 72 yang menerbangkan aku ke kota Medan aku
menyaksikan keindahan danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Horas Pajua jua Sumatera
Utara demikian salam khasmu. Semoga suatu saat saya bisa kembali mengunjungimu.
Medio Januari 2017
Kupersembahkan
kepada keluarga besar papa Pit Paga sebagai obat penghalau dukaku kehilangan
papa Pit Paga





