Sabtu, 21 Januari 2017

Ketika Pertama Kali Menyusuri Pantai Barat Sumatera Utara




Sebuah Catatan perjalanan;


By : Ani Paga

Perjalanan  yang melelahkan yang kutempuh pada awal Juni 2016 tercatat sebagai perjalanan pertamaku menyusuri pantai bagian barat provinsi Sumatera Utara. Bermodal nekad dan keberanian kuterima  tugas kantor itu meski harus bepergian seorang diri. Keyakinanku yang begitu kuat pada kasih sang empunya kehidupan membuatku berani menerima tugas tersebut. 


Jarum jam menunjukkan angka 09.00 waktu Indonesia Barat pesawat Garuda Airlines yang  hendak membawa kami ke Sibolga ibukota Tapanuli Tengah beranjak dari bandar udara Soekarno Hatta Jakarta. Melewati Selat Sunda dan kemdudian menyusuri Lampung, Sumatera Selatan  dan Provinsi lainnya di pulau Sumatera membuatku tak henti-hentinya mengarahkan  kamera ponselku dari arah jendela pesawat udara. Hingga akupun berlarut dalam tidur meski Cuma satu jam. Memasuki Sibolga aku terbangun dan terkagum-kagum pada keindahan alam Sumatera Utara bagian  barat yang berbukit-bukit dan tampak dari kejauhan hutan sawit yang telah dipeta-petakan. Beberapa gugusan pulau tak berpenghuni menjadi sasaran bidik kameraku. Tepat pukul 11.00 lebih sedikit pesawat kami sukses landing di bandara Dr. Ferdinand L. Tobing Sibolga. Dr. Ferdinand L. Tobing merupakan salahsatu nama pahlawan asal kabupaten dengan sejuta pesona ini.


Pulau kecil menjelang landing di Sibolga
Setelah berselfie sejenak di bandara itu saya mengutak atik ponselku menghubungi sopir mobil rental  yang telah kuhubungi dari Jakarta. Puji Tuhan tidak berapa lama Marthin Galung, Sitanggang dan Pasaribu yang kucari-cari ternyata berdiri di depan mataku. Meski sempat muncul rasa takut dan ragu jangan-jangan  kalau mereka orang yang bukan akan mengantarku menuju Tapanuli Selatan. Nada bicara mereka yang terdengar agar kasar membuat nyaliku  tak mau kalah juga. Ah tak apalah kucoba menyapa mereka dengan nada kasarku yang bergaya Flores. Dan alhasil ternyata merekapun menjadi sahabat yang baik dan menjadi teman perjalananku siang itu. Tak berselang lama waktunya kuambil keputusan untuk langsung tancap gas menyusuri pantai Barat Sumatera Utara itu.

Awalnya di Jakarta saya ditakuti teman kantor kalau medan yang akan kutempuh terbilang cukup ekstrim. Alamnya yang begitu hijau dan subur meski harus melewati ratusan tikungan tajam mematahkan rasa takutku. Ahhh... ini mah  kecil tak seberapa ekstrimnya dibanding medan di Flores yang di sekitar ruas jalan penuh dengan jurang-jurang menganga yang setiap saat siap  menerima mangsa. Justru medan seperti inilah yang selalu saya dambakan.

Sepanjang perjalanan salak Tapanuli yang memiliki rasa berbeda dan lebih enak dari salak-salak yang dipasarkan di Jakarta bertebaran di pinggir jalan. Aku mengajak Martin dan Sitanggang menghentikan laju kendaraan.  Dua sahabat yang kendati memiliki tampang garang ternyata menuruti apa saja kemauanku. Salak yang terbungkus rapi dalam anyaman daun pandan begitu menggoda selera. Aku merapat dan bertanya pada penjualnya “ Bang berapa harga salak ini?” aku melemparkan pertanyaan pada penjualnya. “Sepuluh ribu Rupiah satu lumut” ( ah entahlah apa namanya anyaman daun pandan itu). Ah murah amat ‘ gumamku. Langsung saja saya ambil dan menempatkkan pada jok depan samping tempat dudukku. Sitanggang dan Marthin ternyata suka juga pada salak. Rasa lapar mulai menggodaku . Tugasku yang harus diselesaikan hari itu juga menunda jam makan siangku. Pesona kota padang Sidenmpuan Tapanuli Selatan menghalau rasa laparku.


Tampak kota Padang Sidimpuan Tapanuli dari Kejauhan
Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya 30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas penerbangan.  Setelah bekerja beberapa jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki  1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air anak perusahaan Lion Air  beroperasi pada bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip. 

 Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu,  tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.

 Tepat pada pukul 14.00 siang kami tiba di bandara Aek Godang. Bandara yang letaknya 30 Km dari kota Padang Sidempuan itu sudah setahun vakum tanpa aktifitas penerbangan.  Setelah bekerja beberapa jam aku menyempatkan diri kembali berselfie pada bandara yang sempat didarati armada susi air ini. Panjang Runway bandara ini memiliki  1400 meter. Dan kini penerbangan Wings Air anak perusahaan Lion Air  beroperasi pada bandara ini dengan mengambil Rute Medan – Aek Godang round trip.  Hari semakin gelap, kamipun bergegas kembali menenpuh perjalanan balik menuju kota Sibolga di Tapanuli Tengah. Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mengisi perut dengan soto ayam olahan perantau asal Jawa yang membuka usaha rumah makan di pinggir ruas jalan Padang Sidimpuan – Sibolga. Rasa soto yang enak membuatku kembali segar. Tak ketinggalan Sitanggang dan Marthin ikut melahap soto itu. Ah dua saudara yang baru kukenal ini ternyata hoby makan juga dengan jumlah porsi makanan yang tak beda jauh dengan orang Manggarai Flores kampung asalku. Okelah kalau begitu,  tak apa kutraktir asalkan perjalananku lancar.

Mentaripun terus berusaha menyembunyikan dirinya di ufuk barat. Kekagumanku pada keindahan alamnya terus bergejolak. Lagi-lagi aku mengarahkan kamera ponselku pada mentari yang malu-malu pamit dari pandangan kami. Jarum jam menunjukkan angka 18.30 waktu Indonesia Bagian Barat mobil yang kami tumpangi menembus kota Sibolga. Akupun meminta Sitanggang menemaniku mencari hotel tempat aku melepas rasa lelah. Beberapa hotel kecil di pinggir jalan terlihat remang-remang mengurungkan niatku untuk menikmatinya. Aku meminta Sitanggang mencari hotel lain yang cahayanya lebih terang dan tidak memunculkan kesan seram dan ecek-ecek. Tibalah saatnya Sitanggang menawarkan hotel berbintang yang berlokasi di bibir pantai Pandan dan akupun ,menjatuhkan piliuhanku pada Hotel PIA Pantai Pandan. Hotel yang memiliki banyak lantai dan   terbilang tarifnya lumayan mahal.Setelah menaruh barang bagasiku Sitanggang  memohon pamit padaku menuju markasnya di kota Sibolga dan berjanji esok pagi menjemputku  untuk diantarkan ke bandara Ferdinand L. Tobing Sibolga.

Malam itu mataku terasa sulit terpejam. Aku tak tidur hingga menembus subuh tiba. Pukul 04.30 aku berusaha tidur dan puji Tuhan aku sempat tertidur hingga pukul 06.00. Suara deburan ombak pantai membangunkanku. Aku tersentak ternyata kamar tidurku berlokasi sangat dekat dengan bibir pantai. Kucoba keluar kamar dan menikmati ombak pantai yang tinggi dan menembus halaman belakang hotel. Rasa takut sempat muncul terbayang jika tsunami yang selalu mengancam kawasan pantai Barat Sumatera terulang kembali. Betapa tidak wilayah ini sempat menjadi bagian terpaan gempa bumi yang melanda Aceh tahun 2004 lalu. Nasibnya masih beruntung karena tak menelan korban jiwa seperti di Padang atau Aceh.
Pantai Pandan Tapanuli Tengah
Ah sudahlah lupakan saja cerita tsunami. Dua sosok manusia yang berdiri santai bersandar pada pagar nampak sedang menikmati keindahan pantai. Dari arah belakang kudekati mereka dan meminta bantuan mereka untuk memotretku. Ah ternyata mereka hanya patung yang tampak belakang seperti manusia asli berbalut beberapa helai kain. Agak lama aku berada di sana menikmati deburan ombak pantai dengan ditemani anak-anak pantai yang mencoba melawan berperang dengan ombak. Aku sendiri tidak  berani bermain ombak. Bayangan terseret ombak membuatku nyaliku ciut. Tak apa,  aku cukup menikmati saja.
Bersama dua patung
Tak lama berselang, petugas restoran hotel memanggilku menawarkan breakfast (sarapan pagi). Dengan sajian menu prasmanan yang terkesan mewah dan enak kusantap breakfastku bersama tamu hotel lainnya. Selanjutnya kucoba menyimak souvenir khas pantai Pandan Sibolga yang terpajang pada etalase hotel untuk kubeli dan membawanya pulang tetapi baru aku sadar jika hari itu saya harus masih menempuh perjalanan ke kota Medan ibukota provinsi Sumatera Utara sebagai tempat tugasku berikutnya. Dari Sibolga pesawat Wings Air dengan jenis ATR 72 yang menerbangkan aku ke kota Medan aku menyaksikan keindahan danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Horas Pajua jua Sumatera Utara demikian salam khasmu. Semoga suatu saat saya bisa kembali mengunjungimu.


Medio Januari 2017
Kupersembahkan kepada keluarga besar papa Pit Paga sebagai obat penghalau dukaku kehilangan papa Pit Paga


Sumber Air Masih Jauh; Labuan Bajo Dilanda Krisis Air

By :   Ani Paga (Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Kompasiana edisi 3 Agustus 2018)   Varanus komodoensi. (Foto : Constant Nan...